• Home
  • Home
  • Home

Sabtu, 07 Januari 2012

Analisis Cerpen


Cerpen “Surabaya” Karya Toti Tjitrawasita
(Suatu Tinjauan Sosiologis)
            Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa (Wellek&Warren, 1977:109). Karya sastra sendiri adalah proses kreatif seorang pengarang yang lahir dari perenungan dan pemikiran berdasarkan kondisi sosial masyarakat yang ada. Penyair atau pengarang adalah bagian dari masyarakat yang memiliki strata khusus. Dari penjelasan tersebut nyatalah bahwa sebuah karya sastra tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra tersebut. Diperkuat dengan kenyataan bahwa sorang pengarang adalah elemen sosial yang jelas akan membawa ideologi sosialnya masuk ke dalam karya sastra karangannya.
            Dalam proses kreatif penciptaan karya sastra, pengarang harus lebih serius dan konsisten memerhatikan fenomena sosial budaya yang ada di sekitarnya. Karena hal tersebut adalah salah satu yang menentukan baik buruknya sebuah karya sastra. Dengan memerhatikan sosial budaya masyarakat, sebuah karya sastra bisa menjadi bahan renungan bagi pembacanya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh latarbelakang skemata budaya yang sama. D.C. Longinus mengingatkan bahwa karya sastra yang baik adalah yang bisa membuat pembacanya merenung.
            Lagi pula sastra selalu “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari dari kenyatan sosial, sekalipun karya sastra juga “meniru” alam dan subjektif manusia (Wellek&Warren, 1977:109). Artinya sastra selalu terpengaruh (disesaki pengaruh) dari kenyataan sosial dan keadaan alam yang ada di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena terkadang seorang pengarang tidak sengaja memasukkan fenomena sosial budaya dan keaadaan alam terhadap karya sastra yang dibuatnya. Ketidaksengaajaan tersebut wajar, karena memang secara tidak langsung seorang pengarang ingin mengedepankan latar belakang kondisi sosialnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra yang baik biasanya (dan selalu) kental dengan aroma sosial budaya dan keadaan alam yang ada.
            Benarlah anggapan bahwa sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya (Rizal, 2009:2).
            Bicara soal konvensi budaya yang menjadi landasan sebuah karya sastra, Teeuw (1984:100) mengemukakan bahwa sebuah karya sastra tidak mungkin tanpa pengetahuan, sedikit banyaknya, mengenai kebudayaan yang melatarbelakangi karya sastra tersebt dan tidak langsung terungkap dalam sistem tanda bahasanya. Untuk memahami tetralogi “Laskar Pelangi” nya Andrea Hirata, kita dituntut untuk turut mengerti kebudayaan yang melatarbelakangi karya tersebut (dalam hal ini kebudayaan Melayu). Untuk dapat mengerti karya  cinta abadi “Romeo&Juliet” nya William Shakespare kita harus paham akan kondisi sosial masyarakat (Eropa) pada waktu karya itu muncul. Lebih lanjut, Teeuw (1984:100) menyatakan bahwa konvensi budaya telah terkandung dalam sistem bahasa dan konvensi sosio-linguistik serta dalam sistem sastra. Cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita merupakan cerpen pilihan kompas 1970-1980, yang termuat dalam buku Dua Kelamin bagi Midin. Cerpen ini dibuat Toti dengan latar belakang sosial budaya yang sangat kuat. Mungkin ini menjadi nilai plus sehingga cerpen karyanya mampu menjadi yang terbaik. Cerpen “Surabaya” menceritakan tentang kondisi sosial masyarakat Jawa Timur (gunung kapur dan Surabaya). Tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan masyarakat di daerah tersebut pada periode 70-an. Digambarkan secara detail bahwa masyarakat pada masa itu melakukan kegiatan mencuci ternak, mandi, mencuci pakaian, dan buang hajat di satu tempat yang sama (sungai). Juga kebiasaan orang tua pada masa itu (sampai sekarang), yang “gemar” menyimpan uang di dalam (maaf) kutang. Cerpen ini menjadi semakin dinamis dengan pewatakan karakter utamanya (Mbok) yang sangat gigih dan pantang menyerah. Sekejam apapun dunia ini, sekeras apapun lingkungan yang ada disekitarnya, Mbok tetap tegar dan selalu berusaha melewati semua itu dengan kepala tegak. Mbok yang awalnya hidup penuh trauma akibat pemberontakan G30S/PKI di gunung kapur menjadi berapi-api tatkala menerima surat dari anaknya, Juminten, bahwa telah lahir seorang bayi mungil yang kelak akan meneruskan garis keturunan keluarga ini. Dengan berbekal semangat membara dan sumbangan materi dari tetangga sekitarnya, Mbok memberanikan diri sendirian berangkat menuju Surabaya (tempat dimana anak dan menantunya bermukim). Sesampainya disana, Mbok dilanda cultur shock. Masyarakat Surabaya sangat cuek terhadap pendatang. Beda dengan tetangganya di gunung kapur yang ramah terhadap siapapun. Bahkan Mbok sempat dirampok oleh orang tak dikenal. Di akhir bagian dikisahkan bahwa ternyata orang tak dikenal itu adalah menantunya sendiri. Sampai akhirnya Mbok terlunta-lunta dalam mulut raksasa kehidupan metropolitan. Singkat cerita Mbok berhasil menemukan rumah anak, menantu, dan cucunya. Beliau memutuskan untuk tinggal bersama keluarganya di Surabaya. Walau hidup dalam kemiskinan daan selalu dihantui pertanyaan klasik, “Adakah yang bisa dimakan besok pagi?”
            Membaca cerpen “Surabaya” memantik adrenalin untuk berpacu dalam konflik yang mengalir begitu indah. Cerpen ini didesain khusus untuk menggambarkan bagaimana keadaan sosial budaya suatu masyarakat yang dengan cantiknya diubah menjadi bahan renungan bagi pembacanya.
            Konstelasi yang disajikan dalam cerpen ini sanggup membuat pembaca (saya khususnya) berdecak kagum. Dengan mulus, pengarang menyatupadukan sosial budaya mayarakat tertentu dengan penggambaran yang begitu detail tentang keadaan alam (fisik) suatu daerah. Seperti yang tampak dari penggalan cerpen ini, “ Sebentar-bentar lok tua itu berhenti, mengambil dan menurunkan muatan. Oleh kesibukan lalu lintas perkeretaapian, dia sering harus mengalah, berjam-jam menunggu sinyal, untuk bersimpang jalan dengan kereta besar yang kencang jalannya”. Tentu ini menjadi kombinasi yang sangat menarik. Ditambah dengan “bumbu-bumbu”  pesan  moral dan tokoh utamanya yang pekerja keras, semakin menjadikan cerpen ini luar biasa. Maka tidak heran bila akhirnya cerpen ini menjadi salah satu cerpen terbaik pada tahun 1977.
            Penggunaan majas juga sangat kental dalam cerpen ini. Namun, kebanyakan terfokus pada majas personifikasi. Seperti yang terlihat pada kata-kata dalam cerpen berikut ini, “... bunyi azan yang mirip rintihan itu menyobek udara gersang pedusunan miskin di bukit kapur.” Juga terdapat pada bagian ini, “Hatinya pun ikut bergoyang goyang, teriris oleh hukum alam yang disaksikannya, ...”. Yang paling fenomenal tentu bagian favorit saya dalam cerpen ini, “Surabaya, kota yang mirip mulut raksasa, menyedot ribuan urbanisasi ke dalam perutnya, dan memuntahkannya kembali ke kaki lima, emperan cina, kolong jembatan, dan got-got mesum yang merajah tubuh kota.
            Pesan moral yang terkandung juga cukup dalam dan mengena. Seolah ingin menyindir kondisi sosial masyarakat pada waktu itu yang jauh dari kearifan lokal. Seperti penggambaran orang-orang metropolitan (Surabaya) yang egois, kelakuan sebagian orang yang menghalalkan segala cara demi dapat bertahan hidup, dan kedigdayaan kaum besar atas kaum kecil yang jelas tidak sesuai porsinya ( digambarkan dengan kereta barang yang harus selalu mengalah kepada kereta besar seperti bisnis dan eksekutif).
            Pada akhirnya, saya setuju dengan Kompas yang menempatkan cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita sebagai salah satu yang terbaik. Karena dilatarbelakangi oleh kondisi sosial budaya yang jelas serta ditambah dengan pesan moral dan detail penceritaan yang menarik. Majas nya juga mengena dan tepat sasaran. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, sebuah karya sastra yang baik adalah yang berhasil membuat pembacanya merenung. Dalam hal ini, cerpen “Surabaya” sukses besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Website Templates by Body Fat Caliper, Christmas Dress